Oleh Daniel Satria Sutrisno
Semburat cahayaMenyilaukan tatapan para pemegang malamDi lekuk punggung kursi tua kota
Menatap datar lelaki mudah berperawakan kacau
Jemarinya menggamit sebotol bir separuh kosongHanya kilauan cahaya jalanan yang menyinari sosok putus asa ini dengan samar
Gerimis mungil menghiasi redupnya lampu jalananYang senantiasa menguning di sepanjang sisi jalan
Telamatilah nyanyian pohon akasia tua yang menari di balik redupnya langitJangan! jangan menilik pohon tua itu saja
Di bawah naungan pohon itu tersandar lesu anak lelaki mersikBerhiaskan tatapan baju yang compang campingnya bukan mainLama sudah ia murung di bawah naungan pohon yang lebih tahu keadaan kota ini jauh sebelum kerlam merayap di kota ini
Hanya gerimis mungil yang menjadi harta di balik kelam
Hilir mudik kendaraan masih tak acuh dan pasif, dengan tawarnya malam seribuh tanya
Seorang nenek bertongkat, nampak mengulurkan tangan pada pemintas trotoar yang hilir mudik dengan berbagai ekspresi tersamarTak ada yang memperhatikannya
Sepasang mudah mudih saling mendekatkan bibir di tengah keramaianHanya malam seronoh yang menatap kebejatan ini
Sang nenek itupun risau dan terduduk lesuh dalam tangis laparnyaPara petinggi kota hanya hilir mudik menyimburatkan cahya ketidak adilan dengan setelan dasi, jas hitam, dan perut tambun mereka
Kerlip malam menjadi satu tatapan di balik nyala bola mata seekor kucing hitamYang tengah menembus hujan dengan geram
Kota seribuh malam hanya ada ketidak adilan di dalamnya


0 komentar:
Posting Komentar