Aku terbangun, kala aku merasa rambutku dielus lembut. Mataku setengah terpejam, lantaran ingin melihat siapa yang mengelus rambutku sampai aku tertidur.
“Kau sudah bangun,” katanya. Lantas, aku langsung membuka mata dengan lebar dan menatapnya dengan sangsi.
Itu dia.
Dia menatap mataku
dengan sorot mata teduh yang langsung meluluhkan hatiku. Aku kemudian
bangkit, kukira aku tidur di atas bantal. Ternyata tidak, aku tidur di
atas pahanya yang dibalut celana jin. Aku kemudian menoleh ke kanan dan
ke kiri, menelaah keadaan sekitar.
Aku tak tahu berada
dimana. Tapi, tempat aku berada mampu membuatku terkagum-kagum. Danau
hitam yang berkilauan lantaran diterpa sinar rembulan. Pohon-pohon
disekitar terasa bercahaya bersama bintang. Aku bergumam takjub.
Kemudian, tanganku
ditarik dengannya dan kemudian memosisikan diriku tepat disebelahnya.
Tangannya merangkul bahuku, lantas aku bersandar di bahunya.
“Kenapa kau pergi?” tanyaku kemudian, memecahkan keheningan.
“Tempat ini indah bukan?” jawabnya. Bukan itu yang aku inginkan.
Aku mendesah pelan. “Kenapa kau pergi?” tanyaku lagi sembari mendongak ke arahnya.
Ia menatap kedua
manik mataku dengan sorot lembut. Bibirnya tersenyum manis dan kemudian
perlahan bergerak. “Tidurlah lagi,” katanya.
Aku mengernyitkan dahiku, kemudian menggeleng. “Tidak. Tidak. Aku ingin bersamamu,” kataku menolak.
Tangannya mengelus
rambutku lagi. “Tidurlah, sayang,” ujarnya dengan lembut, mirip suara
hembusan angin yang menggelitik leherku.
Aku tak tahan dengan
suaranya. Maka, aku memejamkan kedua mataku. Tapi, hatiku memberontak,
maka dari itu aku kembali membuka mataku.
Tak ada sorot matanya
yang teduh. Tak ada senyuman manis di bibirnya. Tak ada suara lembutnya
yang mampu menggelitik leherku. Aku tak tertidur di atas pangkuannya
lagi.
Mataku menatap kosong
langit-langit kamarku yang gelap. Jadi, itu hanya mimpi. Aku kembali
menarik selimutku dan tidur kembali.
∞
Aku terbangun lagi. Mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang
masuk ke mataku. Kemudian, mataku disambut sorot matanya yang teduh
kembali. Ia mencondongkan kepalanya, kemudian mengecup dahiku lembut.
“Kau sudah bangun,” katanya.
Tak kuindahkan
perkataannya, lantas aku bangkit. Aku tidur di atas pahanya lagi.
Kemudian, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, menelaah keadaan sekitar.
Putih. Semuanya putih. Aku seperti berada di ruangan bercat putih tanpa pintu atau jendela. Aku kemudian menoleh ke arahnya.
“Dimana kita?” tanyaku.
Ia lantas tersenyum,
tak menjawab pertanyaanku. Kemudian, tangannya menggenggam tanganku
dengan erat. Seberkas cahaya datang dari atas secara tiba-tiba. Keluar
kupu-kupu keemasan dari cahaya tersebut. Perlahan, tubuhnya terangkat
bersama kupu-kupu tersebut.
“Aku sayang kamu,”
bisiknya tepat berada di depan bibirku. “Selamat tinggal,” katanya lagi
sampai akhirnya tanganku dengannya terlepas. Ia terbang dan ditelan
cahaya itu bersama kupu-kupu yang membawanya.
Aku tercenung.
Kemudian, mataku mengerjap-ngerjap tak percaya. Dan pada kedipan ke
sepuluh, mataku disambut langit-langit kamar yang gelap.
Aku memimpikannya lagi.
∞
Aku membawa buket mawar berwarna putih yang berjumlah sepuluh ke makan
di kotaku. Lantas, aku langsung mencari nisan bertuliskan “Fawaz
Adelio”.
Aku langsung duduk di samping makamnya setelah mendapatkan nisannya
yang sudah berlumut. Lantas, aku bersihkan lumut dari nisannya.
Kemudian, ku letakkan bunga mawar di depan nisannya.
“Hei, apa kabar?” tanyaku dan mulai mengelus batu nisan yang terukir namanya.
Sudah pasti tak ada jawaban. Aku hanya mendengar suara gemerusuk daun yang diterbangkan angin.
“Bagaiman kau tahu cara melepas rinduku denganmu?” Aku menggenggam rok
gaunku dengan erat lantaran menahan tangis. “Kau menghantuiku lewat
mimpi, heh?”
Aku tak bisa membendung air mataku lagi. Semuanya tumpah di atas makamnya.
“Terima kasih,” kataku lirih. “Terima kasih telah menuntaskan rasa rinduku.”
Aku kemudian beranjak
dan masih menatap makamnya yang mulai buram sebab air mataku. Lantas,
kuusap sudut mataku dan kemudian mulai berjalan menjauhi makamnya.
∞


0 komentar:
Posting Komentar