Merindu

by 17.06.00 0 komentar


 Aku terbangun, kala aku merasa rambutku dielus lembut. Mataku setengah terpejam, lantaran ingin melihat siapa yang mengelus rambutku sampai aku tertidur.

   “Kau sudah bangun,” katanya. Lantas, aku langsung membuka mata dengan lebar dan menatapnya dengan sangsi.
   Itu dia.
   Dia menatap mataku dengan sorot mata teduh yang langsung meluluhkan hatiku. Aku kemudian bangkit, kukira aku tidur di atas bantal. Ternyata tidak, aku tidur di atas pahanya yang dibalut celana jin. Aku kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, menelaah keadaan sekitar.
   Aku tak tahu berada dimana. Tapi, tempat aku berada mampu membuatku terkagum-kagum. Danau hitam yang berkilauan lantaran diterpa sinar rembulan. Pohon-pohon disekitar terasa bercahaya bersama bintang. Aku bergumam takjub.
   Kemudian, tanganku ditarik dengannya dan kemudian memosisikan diriku tepat disebelahnya. Tangannya merangkul bahuku, lantas aku bersandar di bahunya.
   “Kenapa kau pergi?” tanyaku kemudian, memecahkan keheningan.
   “Tempat ini indah bukan?” jawabnya. Bukan itu yang aku inginkan.
   Aku mendesah pelan. “Kenapa kau pergi?” tanyaku lagi sembari mendongak ke arahnya.
   Ia menatap kedua manik mataku dengan sorot lembut. Bibirnya tersenyum manis dan kemudian perlahan bergerak. “Tidurlah lagi,” katanya.
   Aku mengernyitkan dahiku, kemudian menggeleng. “Tidak. Tidak. Aku ingin bersamamu,” kataku menolak.
   Tangannya mengelus rambutku lagi. “Tidurlah, sayang,” ujarnya dengan lembut, mirip suara hembusan angin yang menggelitik leherku.
   Aku tak tahan dengan suaranya. Maka, aku memejamkan kedua mataku. Tapi, hatiku memberontak, maka dari itu aku kembali membuka mataku.
   Tak ada sorot matanya yang teduh. Tak ada senyuman manis di bibirnya. Tak ada suara lembutnya yang mampu menggelitik leherku. Aku tak tertidur di atas pangkuannya lagi.
   Mataku menatap kosong langit-langit kamarku yang gelap. Jadi, itu hanya mimpi. Aku kembali menarik selimutku dan tidur kembali.


   Aku terbangun lagi. Mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke mataku. Kemudian, mataku disambut sorot matanya yang teduh kembali. Ia mencondongkan kepalanya, kemudian mengecup dahiku lembut.
   “Kau sudah bangun,” katanya.
   Tak kuindahkan perkataannya, lantas aku bangkit. Aku tidur di atas pahanya lagi. Kemudian, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, menelaah keadaan sekitar.
   Putih. Semuanya putih. Aku seperti berada di ruangan bercat putih tanpa pintu atau jendela. Aku kemudian menoleh ke arahnya.
   “Dimana kita?” tanyaku.
   Ia lantas tersenyum, tak menjawab pertanyaanku. Kemudian, tangannya menggenggam tanganku dengan erat. Seberkas cahaya datang dari atas secara tiba-tiba. Keluar kupu-kupu keemasan dari cahaya tersebut. Perlahan, tubuhnya terangkat bersama kupu-kupu tersebut.
   “Aku sayang kamu,” bisiknya tepat berada di depan bibirku. “Selamat tinggal,” katanya lagi sampai akhirnya tanganku dengannya terlepas. Ia terbang dan ditelan cahaya itu bersama kupu-kupu yang membawanya.
   Aku tercenung. Kemudian, mataku mengerjap-ngerjap tak percaya. Dan pada kedipan ke sepuluh, mataku disambut langit-langit kamar yang gelap.
   Aku memimpikannya lagi.


   Aku membawa buket mawar berwarna putih yang berjumlah sepuluh ke makan di kotaku. Lantas, aku langsung mencari nisan bertuliskan “Fawaz Adelio”.
   Aku langsung duduk di samping makamnya setelah mendapatkan nisannya yang sudah berlumut. Lantas, aku bersihkan lumut dari nisannya. Kemudian, ku letakkan bunga mawar di depan nisannya.
   “Hei, apa kabar?” tanyaku dan mulai mengelus batu nisan yang terukir namanya.
   Sudah pasti tak ada jawaban. Aku hanya mendengar suara gemerusuk daun yang diterbangkan angin.
   “Bagaiman kau tahu cara melepas rinduku denganmu?” Aku menggenggam rok gaunku dengan erat lantaran menahan tangis. “Kau menghantuiku lewat mimpi, heh?”
   Aku tak bisa membendung air mataku lagi. Semuanya tumpah di atas makamnya.
   “Terima kasih,” kataku lirih. “Terima kasih telah menuntaskan rasa rinduku.”
   Aku kemudian beranjak dan masih menatap makamnya yang mulai buram sebab air mataku. Lantas, kuusap sudut mataku dan kemudian mulai berjalan menjauhi makamnya.


Rosa Amalia

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar